Jumat, 17 April 2009

Kerapu Kertang


BUDIDAYA KERAPU KERTANG

Budidaya ikan kerapu di KJA umumnya memakan waktu pemeliharaan satu sampai satu setengah tahun lamanya. Maka menjadi sebuah kabar gembira buat para pembudidaya bila jenis kerapu kertang (Epinephelus hemiochus) dapat dipanen lebih awal lantaran pertumbuhannya yang cepat. Jenis kerapu yang asli Indonesia ini layak panen di umur 4-5 bulan masa pembesaran. “Ketika ditebar dengan ukuran sama bareng kerapu macan atau bebek, kerapu kertang terbukti lebih cepat besar. Untuk mencapai bobot 480-500 gram (ukuran konsumsi) kerapu bebek membutuhkan waktu satu tahun pembesaran, dan kerapu macan membutuhkan 14 - 15 bulan. Sementara, kerapu kertang cukup di kisaran 4 - 5 bulan saja. Bahkan, waktu tersebut memungkinkan untuk makin dipersingkat dengan cara menaikkan dosis pakan. “Semakin banyak pakan diberikan, semakin cepat pertumbuhannya,”. Artinya, masa panen bisa dikelola berdasarkan kebutuhan pasar. Singkatnya waktu pemeliharaan kerapu kertang ini akan berujung pada peningkatan keuntungan bagi para pembudidaya. Selain itu, Agus mengimbuhkan nilai lebih lain, sifat kanibal kerapu kertang tidak seganas kerapu macan.
Dari aspek pasar pun kerapu kertang memiliki pangsa yang lebih luas. Jenis ini dapat dipasarkan dalam bentuk fillet (irisan daging beku). Pasalnya dalam waktu tidak terlalu lama bisa didapatkan ukuran yang besar. “Kerapu kertang bisa diarahkan untuk pemeliharaan berukuran all size,” Sementara jenis lain selama ini pemasarannya hanya dalam bentuk hidup. Kerapu asal Indonesia sejauh ini banyak dipasarkan ke Hongkong dan Taiwan serta mulai masuk ke China Daratan. Dengan sediaan bentuk fillet diharapkan mampu menembus pasar Eropa dan AS. Soal harga, kerapu kertang tidak jauh berbeda dengan kerapu macan yang tiap kilonya dihargai sekitar Rp 100 ribu. Sementara untuk pakan, Agus mengatakan relatif sama dengan jenis kerapu lainnya. Saat masih kecil ikan bisa diberi artemia dan selanjutnya bisa diberi rucah atau pakan buatan dari pabrik (pelet).

Metode “Implant Hormon”
Masalahnya, kerapu jenis kertang dikenal sulit berkembangbiak. Menurut Koordinator Perbenihan BBL Batam Jesika Rahmat, pihaknya tengah berupaya melakukan penelitian memijahkan dan mengembangbiakkan kerapu kertang menggunakan metode “implant hormon”, yaitu menyuntikan hormon LHRHa pada ikan jantan dan betina. Hormon tersebut berfungsi memicu produksi sperma dari kertang jantan dan telur dari kertang betina.
“Secara rutin ikan disuntik dua bulan sekali,” Dan untuk mendukung-pacu pembuahan, induk yang diproyeksikan menjadi bibit diberi pakan ikan cumi, karena memiliki protein cukup. Jika hasil penelitian ini mampu mengembangbiakkan kerapu kertang secara massal, tak menutup kemungkinan ikan laut ini bakal jadi primadona di masa depan.
Jesika rahmat mengaku, pihaknya dua tahun terakhir mengerjakan proyek penelitian dan pembiakan ikan jenis ini. Dimulai 2006 dengan mendatangkan sekitar 84 induk ikan dari berbagai perairan di Indonesia. Sumber benih alami paling banyak dari Aceh. Dari sekian kali pemijahan yang dilakukan telah dua kali dihasilkan benih. Dan pada periode akhir Juli lalu atau pemijahan ke-empat diperoleh benih yang cukup banyak. “Meskipun demikian, itu masih di bawah normal,” ujar Jesika.

Diharapkan Berujung Sukses
Sementara ini, dari sekitar 15 - 20 juta telur yang dihasilkan masih kurang dari 60% yang terbuahi. Dan dari angka itu, tak sampai 70% -nya yang menetas. Selanjutnya yang hidup menjadi benih dengan panjang 3 - 5 cm hanya berkisar 1 - 3%. Dengan kata lain, SR (Survival Rate) kerapu kertang ini hanya 1 - 3%. Itu sebabnya menurut Suci, masih dibutuhkan penelitian dan pengujian lebih lanjut. Suci berharap penelitian yang tengah digarap ini akan berujung sukses.
Berdasarkan pengalaman penelitian dan pegembangan kerapu bebek dan macan sebelumnya, tingkat kesulitannya tak jauh berbeda. Dahulu kedua jenis kerapu tersebut juga sulit dipijahkan. Pemijahan kerapu bebek dan macan awalnya pun dilakukan dengan metode “implant hormon”, baru dilanjutkan dengan metode manipulasi lingkungan. Setelah manipulasi lingkungan sukses, hormon pun ditinggalkan. Alasannya, manipulasi lingkungan biayanya lebih murah dibandingkan menggunakan hormon.
“Saat ini pemijahan kerapu macan dan bebek bisa dilakukan alami. Syaratnya, pakan dan vitamin diberikan cukup dan air di bak pemijahan bagus. Diharapkan kerapu kertang pun mengikuti jejak sukses dengan pola yang sama. Kerapu kertang satu famili dengan kerapu macan,” kata Suci. Kendalanya, pihak BBPBL mengalami kesulitan dalam ketersediaan induk kerapu kertang. Padahal pemijahan tidak bisa dilakukan hanya dengan menempatkan sepasang kerapu di tempat pemijahan. “Setidaknya dibutuhkan 1 ekor jantan dan tiga ekor betina di satu tempat pemijahan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar